
Banyak perusahaan merasa kewajiban imbalan kerja itu “urusan belakang”. Selama gaji dibayar dan karyawan bekerja normal, semuanya terasa aman. Masalah baru muncul saat audit, laporan keuangan terasa berat, atau manajemen ingin mengambil keputusan besar seperti ekspansi atau restrukturisasi.
Di titik itu, muncul pertanyaan sederhana tapi krusial: sebenarnya bagaimana sih kewajiban imbalan kerja ini dihitung? Kenapa angkanya bisa berubah-ubah?
Perhitungan aktuaria sebenarnya tidak serumit namanya. Jika diurai, prosesnya bisa dipahami sebagai serangkaian langkah logis. Berikut gambaran ringkas 11 langkah perhitungan aktuaria dengan bahasa yang lebih membumi.
1. Menentukan Jenis Program Imbalan
Langkah pertama adalah memahami dulu program yang dimiliki perusahaan.
Apakah manfaatnya sudah ditentukan sejak awal, atau hanya iurannya saja yang pasti. Ini penting karena arah perhitungannya akan berbeda.
Ibaratnya, ini seperti membedakan antara janji “uang saku tetap” dan “uang saku tergantung tabungan”.
2. Mengumpulkan Data Karyawan
Aktuaria tidak bisa bekerja tanpa data.
Data yang biasanya digunakan meliputi usia, masa kerja, gaji, dan status karyawan. Semakin rapi datanya, semakin masuk akal hasilnya.
Jika datanya berantakan, hasil hitungannya pun ikut berantakan.
3. Memahami Aturan yang Berlaku
Perhitungan harus mengikuti aturan akuntansi dan ketenagakerjaan yang berlaku.
Aturan ini menentukan manfaat minimum yang harus dipenuhi perusahaan, bukan sekadar kebijakan internal.
Ini seperti bermain di lapangan yang ada garisnya. Tidak bisa asal jalan sendiri.
4. Menentukan Asumsi Dasar
Asumsi adalah perkiraan tentang masa depan.
Contohnya seperti perkiraan kenaikan gaji, usia pensiun, atau kondisi ekonomi. Asumsi ini tidak asal tebak, tapi disesuaikan dengan kondisi perusahaan dan lingkungan bisnis.
Asumsi ini ibarat peta. Kalau petanya melenceng, hasil perjalanannya juga melenceng.
5. Memproyeksikan Manfaat di Masa Depan
Setelah asumsi ditentukan, manfaat karyawan diproyeksikan ke masa depan.
Berapa kira-kira manfaat pensiun atau pesangon yang akan diterima nanti.
Ini mirip menghitung total biaya sekolah anak dari SD sampai kuliah, meskipun sekarang masih TK.
6. Membagi Manfaat ke Masa Kerja
Di sinilah logika aktuaria bekerja.
Manfaat masa depan tadi dibagi ke setiap tahun masa kerja karyawan. Setiap tahun dianggap “menghasilkan” sebagian kecil manfaat.
Dengan cara ini, kewajiban diakui bertahap, bukan menumpuk di akhir.
7. Menghitung Nilai Kewajiban Saat Ini
Bagian manfaat yang sudah “terkumpul” kemudian dihitung nilainya hari ini.
Istilah teknisnya sering disebut PVDBO. Sederhananya, ini adalah nilai tabungan hari ini untuk janji yang akan dibayar nanti.
Semakin jauh waktu pembayarannya, nilainya hari ini akan disesuaikan.
8. Memperhitungkan Waktu Berjalan
Waktu juga punya dampak.
Setiap tahun berlalu, kewajiban bertambah karena waktu makin dekat ke masa pembayaran. Ini seperti bunga pada cicilan yang makin terasa seiring waktu.
Bagian ini sering membuat kewajiban naik walaupun tidak ada karyawan baru.
9. Menghitung Beban Tahun Berjalan
Dari seluruh proses tadi, muncullah beban imbalan kerja untuk satu tahun.
Beban ini yang masuk ke laporan laba rugi. Angkanya bisa naik turun tergantung kondisi dan asumsi.
Inilah yang sering membuat laba terlihat berfluktuasi.
10. Menghitung Selisih Perubahan
Kadang hasil perhitungan berubah bukan karena karyawan, tapi karena asumsi.
Perubahan asumsi ini menimbulkan selisih. Selisih ini tidak selalu langsung ke laba rugi, tetapi dicatat terpisah agar laporan lebih transparan.
Tujuannya agar perusahaan tahu mana yang operasional, mana yang akibat perubahan kondisi.
11. Menyajikan dalam Laporan Keuangan
Langkah terakhir adalah menyajikan hasil perhitungan ke laporan keuangan.
Di sini, angka kewajiban, beban, dan selisih ditampilkan dengan struktur yang jelas agar bisa dibaca oleh manajemen, auditor, dan pemangku kepentingan lainnya.
Perhitungan selesai, tetapi fungsinya baru dimulai.
Kenapa Memahami Langkah Ini Penting
Dengan memahami alur ini, perusahaan tidak lagi melihat aktuaria sebagai “kotak hitam”.
Manajemen bisa lebih tenang membaca laporan, HR bisa memahami dampak kebijakan, dan keputusan bisnis bisa diambil dengan data yang lebih jujur.
Perhitungan aktuaria bukan sekadar kewajiban pelaporan, tetapi alat untuk melihat komitmen perusahaan ke depan.
Langkah Awal yang Lebih Tenang
Jika 11 langkah ini terasa teknis, itu wajar. Yang penting, perusahaan tahu bahwa perhitungan aktuaria punya alur yang jelas dan masuk akal.
Jika Anda ingin memahami posisi kewajiban imbalan kerja dengan bahasa yang lebih sederhana, serta melihat dampaknya ke bisnis tanpa harus pusing dengan istilah teknis, tim imbalankerja.id siap menjadi partner diskusi dan pendamping yang objektif dan mudah dipahami.


