
Pernahkah Anda merasa pusing saat auditor bertanya tentang metode pencatatan pesangon karyawan? Bagi pemilik bisnis atau tim HRD, urusan akuntansi memang sering membuat dahi berkerut. Anda tahu bahwa karyawan memiliki hak pesangon atau pensiun di masa depan. Tapi, bagaimana cara menghitung dan mencatatnya hari ini agar laporan keuangan tidak berantakan?
Banyak perusahaan salah langkah karena menggunakan standar pelaporan yang terlalu rumit, padahal bisnis mereka belum membutuhkannya. Sebaliknya, ada perusahaan besar yang memakai metode terlalu sederhana sehingga kena tegur auditor. Kuncinya ada pada dua aturan akuntansi yang berlaku di Indonesia saat ini. Dua aturan ini ibarat buku resep yang berbeda untuk memasak hidangan yang sama.
Mari kita bedah perbedaan antara PSAK 24 dan SAK EP dengan bahasa yang membumi. Bayangkan pesangon karyawan ini ibarat tabungan masa depan yang harus Anda cicil dari sekarang. Agar cicilannya pas dan legal secara hukum, Anda perlu memilih standar yang tepat sesuai ukuran bisnis Anda.
Apa Itu PSAK 24?
PSAK 24 adalah standar akuntansi kelas berat. Standar ini umumnya wajib digunakan oleh perusahaan terbuka yang sahamnya melantai di bursa efek, bank, atau asuransi. Aturan ini sangat mendetail dan mewajibkan penggunaan jasa ahli matematika khusus yang disebut aktuaris.
Dalam aturan ini, perusahaan harus menghitung kewajiban pensiun menggunakan metode khusus yang memproyeksikan kenaikan gaji karyawan hingga mereka pensiun. Istilah teknisnya adalah PVDBO. Bayangkan ini seperti menghitung berapa total biaya kuliah anak Anda 20 tahun lagi, lengkap dengan perkiraan inflasi dan kenaikan biaya masuk kampus.
Perhitungan di sini sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga dan pergerakan ekonomi makro. Semua perubahan nilai yang belum benar-benar jadi uang tunai akan dicatat di bagian khusus bernama OCI. Ini adalah kantong terpisah dalam laporan keuangan agar angka keuntungan harian perusahaan tidak naik-turun secara drastis hanya karena perubahan asumsi.
Mengenal SAK EP yang Lebih Ramah
SAK EP adalah singkatan dari Standar Akuntansi Keuangan Entitas Privat. Aturan ini dibuat khusus untuk perusahaan yang tidak memiliki kewajiban pelaporan kepada publik. SAK EP hadir sebagai angin segar bagi perusahaan menengah atau bisnis keluarga agar tidak terbebani aturan yang terlalu rumit.
Jika perusahaan Anda tidak menjual saham ke publik dan bukan lembaga keuangan, Anda berhak menggunakan jalur ini. Standar ini jauh lebih sederhana karena memangkas banyak asumsi rumit. Perusahaan tidak dipaksa menggunakan metode proyeksi gaji masa depan jika biayanya terlalu mahal atau usahanya terlalu rumit.
Analogi mudahnya, jika PSAK 24 ibarat membeli jas mahal yang diukur khusus oleh penjahit ternama, maka SAK EP ibarat membeli kemeja siap pakai di toko. Keduanya sama-sama pantas dan sah digunakan, tetapi dengan biaya dan kerumitan yang jauh berbeda.
3 Perbedaan Utama yang Perlu HRD Ketahui
Agar lebih mudah dipahami oleh Anda dan tim manajemen, berikut adalah perbedaan mendasar antara kedua standar tersebut:
- Target Pengguna
PSAK 24 ditujukan untuk perusahaan besar berakuntabilitas publik. SAK EP untuk perusahaan privat atau UKM. - Tingkat Kerumitan Metode
PSAK 24 wajib menggunakan metode perhitungan rumit yang memproyeksikan gaji masa depan. SAK EP membolehkan metode yang lebih sederhana tanpa proyeksi kenaikan gaji. - Dampak ke Laporan Keuangan
PSAK 24 memisahkan kerugian atau keuntungan asumsi ke komponen OCI. SAK EP biasanya langsung memasukkannya ke dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
Perbandingan Angka Sederhana
Untuk memudahkan bayangan Anda, mari kita lihat contoh perbedaan biaya persiapan pesangon untuk 1 karyawan dengan masa kerja 5 tahun.
Tabel Perbandingan Konsep:
| Keterangan | Metode PSAK 24 | Metode SAK EP |
| Perkiraan Gaji Masa Depan | Dihitung dan dimasukkan | Boleh tidak dimasukkan |
| Estimasi Kewajiban | Rp 50.000.000 | Rp 35.000.000 |
| Tingkat Kesulitan | Tinggi | Rendah |
Catatan: Angka di atas hanya ilustrasi sederhana untuk menunjukkan bahwa perhitungan PSAK 24 biasanya menghasilkan angka pencadangan yang lebih tinggi karena memperhitungkan kenaikan gaji masa depan.
Solusi untuk Bisnis Anda
Memilih standar yang tepat bukanlah sekadar urusan administrasi, melainkan strategi untuk menjaga kesehatan arus kas perusahaan. Salah memilih standar bisa membuat laba perusahaan terlihat lebih kecil dari yang seharusnya, atau malah membengkakkan biaya jasa konsultan yang sebenarnya belum Anda butuhkan. Jangan biarkan urusan pesangon menjadi bom waktu di masa depan hanya karena salah metode pencatatan hari ini.
Kini Anda tidak perlu lagi pusing memikirkan rumitnya aturan akuntansi tersebut sendirian. Tim profesional kami siap membantu menghitung kewajiban imbalan kerja Anda secara akurat, efisien, dan bebas pusing. Mari diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama imbalankerja.id hari ini juga.


