
Bayangkan Anda ingin membeli sebuah mobil bekas yang terlihat sangat mengkilap dari luar. Catnya mulus, bannya baru, dan interiornya sangat wangi. Namun, apakah Anda akan langsung mentransfer uangnya tanpa mengecek mesin mobil tersebut ke bengkel? Tentu tidak. Hal yang sama persis berlaku ketika Anda ingin membeli atau bergabung dengan sebuah perusahaan lain.
Dalam dunia bisnis yang serba cepat, aksi korporasi seperti merger atau akuisisi menjadi jalan pintas untuk tumbuh. Sayangnya, banyak pemilik bisnis dan manajemen yang terlalu fokus pada aset yang terlihat seperti gedung, merek, dan mesin produksi. Mereka kerap melupakan satu hal krusial yang tidak kasat mata yaitu hak dan imbalan karyawan.
Di sinilah peran penting sebuah proses pemeriksaan mendalam yang dilakukan sebelum transaksi terjadi. Proses ini sering disebut sebagai uji tuntas atau due diligence. Jika Anda tidak melakukan pengecekan ini pada bagian imbalan kerja, Anda mungkin saja sedang membeli sebuah bom waktu finansial.
Apa Itu Due Diligence Imbalan Kerja?
Secara sederhana due diligence imbalan kerja adalah proses investigasi atau bedah tuntas terhadap segala kewajiban perusahaan kepada karyawannya. Kewajiban ini mencakup banyak hal mulai dari pesangon, jatah cuti yang belum diambil, hingga dana pensiun di masa depan.
Dalam akuntansi modern yang diatur oleh standar terbaru bernama PSAK 219, perusahaan wajib mencatat semua janji kepada karyawan sebagai sebuah beban atau utang. Aturan PSAK 219 ini merupakan buku panduan wajib agar laporan keuangan perusahaan jujur dan transparan.
Tujuan utama dari investigasi ini adalah untuk memastikan tidak ada utang tersembunyi. Jangan sampai setelah perusahaan resmi Anda beli, ternyata di kemudian hari ada tagihan pesangon miliaran rupiah yang belum tercatat di laporan keuangan sebelumnya.
Mengapa Investigasi Ini Sangat Menentukan Nilai Bisnis?
Banyak yang menganggap imbalan kerja hanyalah urusan divisi HRD. Padahal dampaknya langsung menghantam jantung keuangan perusahaan. Kewajiban imbalan kerja ini bersifat jangka panjang dan nilainya terus bertambah seiring bertambahnya masa kerja karyawan.
Dalam bahasa teknis aktuaria ada istilah yang disebut PVDBO. Anda tidak perlu pusing dengan singkatannya. Cukup bayangkan ini sebagai total tagihan seluruh pesangon karyawan jika perusahaan ditutup hari ini. Angka inilah yang harus ditemukan kebenarannya.
Jika hasil investigasi menemukan bahwa kewajiban pesangon lebih besar daripada yang dilaporkan, maka nilai beli perusahaan tersebut harus diturunkan. Anda bisa menggunakan temuan ini sebagai senjata untuk negosiasi harga pembelian agar menjadi lebih murah.
Komponen Penting yang Diperiksa dalam Proses Investigasi
Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan tenaga ahli profesional seperti aktuaris yang bisa membaca data masa lalu untuk meramal beban di masa depan. Ada beberapa area utama yang akan dibongkar habis dalam proses ini.
- Kelengkapan Data Karyawan
Tim pemeriksa akan meminta data seluruh karyawan secara detail. Data ini meliputi usia, tanggal mulai bekerja, posisi jabatan, hingga besaran gaji pokok. Bahkan data karyawan yang sudah keluar atau pensiun pun kadang perlu ditelusuri riwayatnya. - Dokumen Peraturan Perusahaan
Setiap perusahaan memiliki aturan main atau Perjanjian Kerja Bersama. Dokumen ini adalah janji hukum perusahaan kepada karyawan. Tim pemeriksa akan membandingkan apakah janji di kertas sudah sesuai dengan dana yang disiapkan. - Asumsi Ekonomi dan Finansial
Ini adalah bagian peramalan masa depan. Aktuaris akan melihat asumsi tingkat diskonto. Tingkat diskonto ini ibarat target bunga investasi yang diharapkan perusahaan untuk membayar pesangon di masa depan. Jika asumsinya terlalu optimis, laporan keuangan bisa terlihat palsu. - Kepatuhan Terhadap Regulasi
Perusahaan target harus dipastikan sudah patuh pada aturan pemerintah terbaru seperti Undang-Undang Cipta Kerja. Pelanggaran terhadap aturan ini bisa berujung pada sanksi denda yang nantinya harus Anda tanggung sebagai pemilik baru.
Simulasi Sederhana Dampak Keuangan Tanpa Due Diligence
Agar lebih mudah dipahami mari kita lihat contoh kasus sederhana berikut ini. Sebuah perusahaan manufaktur ingin diakuisisi dengan harga kesepakatan awal sebesar 50 miliar rupiah. Pembeli percaya laporan keuangan sudah bersih.
| Keterangan | Nilai Asumsi Awal | Temuan Setelah Due Diligence |
| Harga Akuisisi Perusahaan | 50 Miliar | 50 Miliar |
| Kewajiban Imbalan Kerja Dilaporkan | 5 Miliar | 12 Miliar |
| Beban Utang Tersembunyi | 0 | 7 Miliar |
| Harga Beli Bersih Sebenarnya | 50 Miliar | 43 Miliar |
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa pembeli hampir saja rugi sebesar 7 miliar rupiah karena ada utang pesangon yang belum tercatat. Setelah due diligence dilakukan pembeli bisa meminta harga turun menjadi 43 miliar rupiah.
Tantangan yang Sering Muncul Saat Pemeriksaan
Proses investigasi ini seringkali tidak berjalan mulus. Masalah paling umum yang ditemukan adalah manajemen data perusahaan target yang berantakan. Banyak perusahaan yang masih mencatat data karyawan secara manual sehingga rawan kesalahan.
Tantangan kedua adalah perbedaan asumsi kenaikan gaji. Karyawan tentu berharap gajinya naik terus setiap tahun. Aktuaris harus menghitung potensi kenaikan gaji ini puluhan tahun ke depan yang seringkali diprotes oleh manajemen karena membuat beban terlihat besar.
Selain itu pergantian aturan standar akuntansi dari PSAK 24 ke PSAK 219 juga sering membuat perusahaan kebingungan. Perubahan rumus perhitungan ini mewajibkan perusahaan melakukan penyesuaian ulang yang cukup rumit.
Langkah Aman untuk Masa Depan Bisnis Anda
Melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi adalah langkah hebat. Namun keberanian harus selalu diimbangi dengan kehati-hatian. Jangan biarkan investasi besar Anda tergerus hanya karena luput memeriksa hak-hak karyawan di masa depan.
Proses due diligence imbalan kerja bukanlah biaya tambahan yang merugikan. Justru ini adalah sabuk pengaman dan asuransi yang akan menyelamatkan perusahaan Anda dari potensi kerugian miliaran rupiah di kemudian hari.
Jika Anda atau perusahaan Anda sedang merencanakan aksi korporasi dan membutuhkan panduan lebih lanjut, jangan ragu untuk berdiskusi dengan para ahli. Hubungi kami di imbalankerja.id untuk mendapatkan konsultasi dan pendampingan aktuaria yang transparan, profesional, dan mudah dipahami demi keamanan bisnis Anda.


