
Dunia bisnis saat ini sedang mengalami pergeseran besar yang tidak bisa diabaikan. Jika dulu kesuksesan sebuah perusahaan hanya diukur dari angka laba bersih di akhir tahun, sekarang ceritanya sudah berbeda. Para investor, pelanggan, bahkan calon karyawan kini mulai melihat lebih jauh ke dalam “dapur” perusahaan.
Mereka ingin tahu apakah perusahaan tersebut ramah lingkungan, memperlakukan karyawannya dengan adil, dan dikelola dengan jujur. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah ESG, sebuah standar baru yang kini mulai bersinggungan erat dengan aturan akuntansi terbaru di Indonesia, yaitu PSAK 219.
Mungkin terdengar sangat teknis dan membosankan bagi Anda yang tidak berkutat di dunia keuangan. Namun, memahami keterkaitan antara ESG dan PSAK 219 adalah kunci agar bisnis Anda tetap relevan dan memiliki daya tarik di mata dunia luar. Mari kita bedah satu per satu dengan cara yang lebih santai.
Mengenal ESG Si Standar Keberlanjutan
ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Bayangkan ESG ini seperti sebuah rapor komprehensif yang menilai perilaku sebuah perusahaan. Huruf E (Environment) menilai bagaimana perusahaan menjaga alam, seperti penggunaan energi atau pengolahan limbah.
Huruf S (Social) berfokus pada hubungan perusahaan dengan manusia. Di sinilah letak titik temu yang paling kuat dengan imbalan kerja. Bagaimana perusahaan memberikan jaminan hari tua, kesehatan, dan kesejahteraan bagi karyawannya masuk ke dalam kategori ini.
Sedangkan huruf G (Governance) adalah tentang aturan main yang bersih. Ini menyangkut bagaimana keputusan diambil, transparansi laporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku. Perusahaan yang punya nilai ESG tinggi biasanya lebih mudah mendapatkan suntikan modal dari investor besar.
Apa Itu PSAK 219 dan Mengapa Penting
Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan PSAK 24, mungkin bertanya-tanya apa itu PSAK 219. Sebenarnya, ini adalah standar akuntansi terbaru yang mengatur hal yang sama, yaitu tentang imbalan kerja. Pemerintah melakukan pembaruan ini untuk menyesuaikan dengan standar internasional agar laporan keuangan perusahaan kita bisa “nyambung” dengan bahasa keuangan dunia.
Secara sederhana, PSAK 219 mengatur bagaimana perusahaan mencatat janji-janji masa depan mereka kepada karyawan. Misalnya, perusahaan berjanji akan memberikan uang pesangon saat karyawan pensiun nanti. Janji ini bukan sekadar ucapan, tapi memiliki nilai ekonomis yang harus dicatat sejak sekarang.
Pencatatan ini sangat penting karena jika tidak dikelola dengan benar, janji masa depan tersebut bisa menjadi beban yang meledak di kemudian hari. Dengan PSAK 219, perusahaan dipaksa untuk transparan mengenai berapa besar kewajiban yang mereka miliki terhadap kesejahteraan orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Istilah Teknis yang Sering Muncul
Dalam laporan aktuaria atau laporan keuangan, Anda mungkin akan sering melihat istilah PVDBO. Jangan pusing dulu melihat singkatan tersebut. PVDBO atau Present Value of Defined Benefit Obligation sebenarnya hanya istilah keren untuk menyebut total nilai kewajiban pensiun saat ini.
Bayangkan ini seperti Anda berencana membelikan anak Anda mobil saat dia lulus kuliah 10 tahun lagi. Anda menghitung bahwa harga mobil itu nanti sekitar 200 juta. Nah, uang yang harus Anda kumpulkan atau “nilai” janji tersebut jika ditarik ke hari ini itulah yang disebut dengan PVDBO.
Lalu ada lagi istilah tingkat diskonto. Ini bisa kita anggap sebagai angka perkiraan bunga atau inflasi di masa depan. Angka ini digunakan untuk menghitung mundur nilai uang di masa depan menjadi nilai hari ini. Semakin tepat angka diskonto yang digunakan, semakin akurat laporan keuangan perusahaan Anda.
Hubungan Erat Antara ESG dan PSAK 219
Lalu, apa hubungannya standar akuntansi ini dengan isu keberlanjutan atau ESG? Hubungannya ada pada transparansi dan tanggung jawab sosial. Ketika sebuah perusahaan menjalankan PSAK 219 dengan jujur dan detail, mereka sebenarnya sedang menunjukkan nilai sosial (S) dan tata kelola (G) yang baik.
Perusahaan yang melaporkan kewajiban imbalan kerjanya dengan transparan menunjukkan bahwa mereka serius dalam menjamin masa depan karyawannya. Investor melihat ini sebagai bukti bahwa perusahaan tidak hanya mengejar profit jangka pendek, tapi juga memikirkan stabilitas jangka panjang.
Jika perusahaan menyembunyikan atau salah menghitung kewajiban imbalan kerjanya, itu dianggap sebagai risiko besar dalam ESG. Investor akan menganggap tata kelola perusahaan tersebut buruk karena tidak mampu memprediksi dan mengelola janji keuangan kepada tenaga kerjanya sendiri.
Keuntungan Memadukan Keduanya
Menerapkan pelaporan ESG yang didukung oleh perhitungan PSAK 219 yang akurat memberikan banyak keuntungan praktis bagi bisnis. Pertama, reputasi perusahaan akan naik secara signifikan. Perusahaan Anda akan dianggap sebagai tempat kerja yang aman dan bertanggung jawab.
Kedua, akses terhadap pendanaan menjadi lebih luas. Banyak perbankan dan investor kini memberikan syarat hijau atau syarat keberlanjutan bagi perusahaan yang ingin meminjam dana atau mencari investasi. Laporan aktuaria yang rapi sesuai PSAK 219 adalah bukti kuat bahwa Anda memenuhi aspek sosial dalam ESG.
Ketiga, efisiensi operasional. Dengan mengetahui secara pasti berapa beban imbalan kerja yang harus disiapkan, departemen keuangan bisa mengatur arus kas dengan lebih bijak. Tidak ada lagi kejutan besar saat banyak karyawan pensiun secara bersamaan karena dananya sudah diprediksi dan disiapkan sejak awal.
Langkah Mudah Memulai Pelaporan
Bagi pemilik bisnis atau staf HRD, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan audit terhadap kebijakan imbalan kerja yang ada saat ini. Apakah sudah sesuai dengan undang-undang terbaru seperti UU Cipta Kerja? Jika belum, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan penyesuaian.
Setelah itu, libatkan tenaga ahli atau aktuaris untuk menghitung kewajiban tersebut sesuai standar PSAK 219. Hasil perhitungan ini jangan hanya disimpan di laci meja akuntan, tapi jadikan bagian dari narasi laporan keberlanjutan atau laporan tahunan perusahaan Anda.
Jelaskan kepada pemangku kepentingan bahwa perusahaan Anda berkomitmen pada prinsip ESG melalui pengelolaan imbalan kerja yang profesional. Ceritakan bagaimana Anda mengelola risiko masa depan dan memastikan hak-hak karyawan terlindungi dengan baik secara finansial.
Strategi untuk Masa Depan Bisnis Anda
Menghadapi perubahan standar ini memang membutuhkan upaya ekstra, namun hasilnya sangat sepadan. Di era di mana informasi sangat mudah diakses, transparansi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan bagi perusahaan yang ingin bertahan lama.
Mengintegrasikan perhitungan aktuaria ke dalam strategi besar ESG akan membuat perusahaan Anda memiliki fondasi yang kokoh. Anda tidak hanya patuh pada hukum, tapi juga sedang membangun sebuah ekosistem bisnis yang sehat bagi lingkungan, masyarakat, dan seluruh karyawan.
Jangan biarkan kerumitan angka-angka akuntansi menghalangi visi besar perusahaan Anda. Jadikan PSAK 219 sebagai alat untuk membuktikan bahwa bisnis Anda memang layak mendapatkan kepercayaan dari pasar global dan menjadi pemimpin di industri yang Anda geluti.
Solusi untuk Bisnis Anda
Mengelola isu imbalan kerja dan laporan keberlanjutan memang memerlukan ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam laporan keuangan. Jika Anda merasa butuh bantuan untuk membedah lebih dalam mengenai kewajiban imbalan kerja atau ingin memastikan laporan Anda sudah sesuai dengan standar terbaru, kami siap membantu.
Tim ahli di imbalankerja.id memiliki pengalaman panjang dalam menyederhanakan proses perhitungan aktuaria dan membantu perusahaan mengintegrasikannya ke dalam laporan tahunan yang berkualitas. Mari kita berdiskusi lebih lanjut untuk memastikan perusahaan Anda siap menghadapi masa depan dengan lebih percaya diri.
Silakan hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut dan temukan bagaimana pengelolaan imbalan kerja yang tepat dapat meningkatkan nilai perusahaan Anda di mata dunia.


