
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat banyak perusahaan mulai mempertanyakan apakah pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh tenaga profesional masih akan dibutuhkan. Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul adalah, apakah AI akan menggantikan aktuaris?
Pertanyaan ini wajar, terutama ketika AI mampu mengolah data dalam jumlah besar, membuat analisis dalam hitungan detik, hingga membantu menyusun laporan. Namun, untuk pekerjaan yang berkaitan dengan valuasi aktuaria dan perhitungan imbalan kerja, jawabannya tidak sesederhana itu.
Yang lebih mungkin terjadi bukanlah AI menggantikan aktuaris, melainkan AI menjadi alat yang membantu aktuaris bekerja lebih cepat dan lebih efisien.
AI Memang Unggul dalam Mengolah Data
Dalam proses valuasi aktuaria, terdapat banyak data yang harus dikelola, mulai dari data karyawan, riwayat gaji, masa kerja, hingga berbagai asumsi yang digunakan dalam perhitungan.
AI dapat membantu mempercepat beberapa pekerjaan administratif, seperti:
- memeriksa kelengkapan data karyawan,
- menemukan data yang tidak konsisten,
- membantu menyusun dokumentasi,
- membuat ringkasan hasil analisis,
- serta mempercepat proses pengolahan data dalam jumlah besar.
Kemampuan ini tentu memberikan manfaat bagi perusahaan karena dapat menghemat waktu dalam proses persiapan data.
Namun, pengolahan data hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan proses valuasi aktuaria.
Perhitungan Aktuaria Bukan Sekadar Menghasilkan Angka
Dalam perhitungan imbalan kerja berdasarkan PSAK 219, perusahaan tidak hanya membutuhkan angka akhir.
Perusahaan juga harus dapat menjelaskan bagaimana angka tersebut diperoleh, asumsi apa yang digunakan, apakah metodologinya sesuai standar akuntansi, dan apakah seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan pada saat audit.
Di sinilah peran aktuaris tetap sangat penting.
Seorang aktuaris tidak hanya menjalankan perhitungan, tetapi juga menentukan asumsi yang sesuai dengan kondisi perusahaan, mengevaluasi dampak perubahan ekonomi terhadap kewajiban imbalan kerja, serta memberikan penjelasan profesional apabila auditor atau manajemen memerlukan klarifikasi.
Keputusan-keputusan tersebut membutuhkan pertimbangan profesional yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sistem otomatis.
AI Tidak Memiliki Tanggung Jawab Profesional
AI dapat memberikan rekomendasi berdasarkan data yang tersedia.
Namun AI tidak memiliki izin praktik, tidak memiliki tanggung jawab profesional, dan tidak dapat menandatangani laporan aktuaria yang digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.
Dalam praktiknya, auditor tidak hanya melihat hasil perhitungan. Mereka juga memperhatikan apakah laporan disusun menggunakan metodologi yang sesuai, didukung asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta disiapkan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan di bidang aktuaria.
Karena itu, penggunaan AI saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan audit maupun kepatuhan terhadap PSAK 219.
Risiko Jika Terlalu Bergantung pada AI
Kemudahan yang ditawarkan AI terkadang membuat perusahaan tergoda untuk melakukan seluruh proses secara mandiri.
Padahal, terdapat beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan regulasi yang berlaku atau kondisi spesifik perusahaan. Selain itu, AI juga dapat menggunakan asumsi yang tidak relevan apabila data yang diberikan kurang lengkap atau tidak diperbarui.
Jika hasil tersebut langsung digunakan sebagai dasar pencatatan kewajiban imbalan kerja, perusahaan berpotensi menghadapi koreksi saat proses audit, revisi laporan keuangan, atau pengambilan keputusan bisnis berdasarkan angka yang kurang akurat.
Bagi HR maupun Finance, risiko seperti ini tentu lebih besar dibandingkan manfaat menghemat waktu pada tahap awal perhitungan.
Masa Depan Aktuaris adalah Berkolaborasi dengan AI
Alih-alih menggantikan aktuaris, AI justru berpotensi menjadi alat yang meningkatkan kualitas pekerjaan aktuaria.
Aktuaris dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat analisis data, menyusun dokumentasi, serta mengurangi pekerjaan yang bersifat administratif. Dengan demikian, waktu yang dimiliki dapat lebih difokuskan pada analisis risiko, evaluasi asumsi, dan pemberian rekomendasi strategis kepada perusahaan.
Pendekatan ini memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan mengandalkan AI tanpa pengawasan profesional.
Menggunakan AI dengan Tepat untuk Mendukung Keputusan Bisnis
AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari berbagai proses bisnis, termasuk di bidang aktuaria. Namun, untuk perhitungan kewajiban imbalan kerja yang berdampak langsung pada laporan keuangan, audit, dan kepatuhan terhadap PSAK 219, perusahaan tetap memerlukan pertimbangan profesional serta metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menggabungkan teknologi dengan keahlian manusia merupakan pendekatan yang lebih tepat dibandingkan memilih salah satunya. Dengan cara ini, perusahaan dapat memperoleh proses yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas dan keandalan hasil perhitungan.
Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam penyusunan laporan aktuaria untuk kebutuhan audit maupun kepatuhan PSAK 219, tim imbalankerja.id siap membantu melalui jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang akurat, terdokumentasi dengan baik, dan disusun oleh konsultan aktuaria yang berpengalaman. Dengan dukungan yang tepat, perusahaan dapat menghadapi proses audit dan pelaporan keuangan dengan lebih percaya diri.
Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?
Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.
