Ketika perusahaan melihat data karyawan hari ini, yang terlihat mungkin hanya nama, usia, gaji, dan masa kerja. Bagi aktuaris, data yang sama dapat digunakan untuk memperkirakan kewajiban perusahaan di masa depan.

Inilah salah satu fungsi utama aktuaria dalam perhitungan imbalan kerja. Aktuaris tidak sekadar menghitung berapa kewajiban perusahaan saat ini, tetapi menggunakan data dan sejumlah asumsi untuk memperkirakan bagaimana kewajiban tersebut dapat berkembang sampai manfaat dibayarkan.

Dalam konteks laporan keuangan, kemampuan membaca kemungkinan masa depan inilah yang membuat valuasi aktuaria berbeda dari perhitungan sederhana menggunakan spreadsheet. Struktur valuasi aktuaria dimulai dari kualitas data, kemudian dilanjutkan dengan asumsi, proyeksi manfaat, dan perhitungan nilai kini kewajiban.

Data Hari Ini Menjadi Dasar Proyeksi Masa Depan

Proses aktuaria dimulai dari data karyawan.

Tanggal lahir membantu menentukan usia dan perkiraan sisa masa kerja. Tanggal mulai bekerja memberikan informasi mengenai masa kerja yang telah diperoleh. Sementara itu, data gaji menjadi dasar untuk memperkirakan manfaat yang akan diterima di masa mendatang.

Karena itu, kualitas data menjadi sangat penting. Kesalahan tanggal lahir, gaji yang tidak diperbarui, atau karyawan yang sudah berhenti tetapi masih tercatat aktif dapat memengaruhi hasil valuasi.

Prinsipnya sederhana: data yang tidak akurat akan menghasilkan estimasi kewajiban yang tidak akurat pula.

Bagi HR dan Finance, ini berarti proses valuasi aktuaria sebaiknya tidak dimulai hanya ketika auditor meminta laporan. Data karyawan perlu dipelihara dengan baik sepanjang tahun agar proses perhitungan dapat berjalan lebih lancar.

Aktuaris Tidak Meramal, tetapi Menggunakan Asumsi

Istilah “membaca masa depan” dalam aktuaria bukan berarti aktuaris mengetahui apa yang akan terjadi secara pasti.

Aktuaris menggunakan data historis, kondisi pasar, dan asumsi yang wajar untuk membuat proyeksi.

Misalnya, gaji karyawan saat ini belum tentu menjadi dasar akhir manfaat ketika karyawan pensiun. Jika terdapat asumsi kenaikan gaji setiap tahun, aktuaris dapat memproyeksikan bagaimana gaji tersebut berkembang sampai waktu manfaat dibayarkan.

Hal yang sama berlaku untuk kemungkinan karyawan keluar sebelum pensiun dan kemungkinan terjadinya peristiwa demografis tertentu.

Dengan demikian, valuasi aktuaria sebenarnya adalah proses memperkirakan berbagai kemungkinan, kemudian mengubahnya menjadi estimasi kewajiban yang dapat digunakan dalam laporan keuangan.

Mengapa Tingkat Diskonto Sangat Penting?

Salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana aktuaria melihat masa depan adalah tingkat diskonto.

Manfaat karyawan mungkin baru akan dibayarkan beberapa tahun atau bahkan belasan tahun mendatang. Nilai pembayaran di masa depan tersebut tidak langsung dianggap memiliki nilai yang sama dengan uang pada hari ini.

Karena itu, aktuaris menghitung nilai kini dari kewajiban tersebut.

Jika kondisi pasar menyebabkan tingkat diskonto berubah, nilai kewajiban yang dihitung juga dapat berubah. Bahkan ketika jumlah karyawan dan gaji mereka tidak mengalami perubahan besar, kewajiban yang tercatat dalam laporan keuangan tetap dapat bergerak.

Bagi Finance, perubahan ini penting karena dapat memengaruhi liabilitas imbalan kerja dan angka yang disajikan dalam laporan keuangan.

Dari Data Karyawan Menjadi Kewajiban Perusahaan

Dalam metode Projected Unit Credit yang digunakan dalam valuasi imbalan kerja, setiap periode masa kerja karyawan berkontribusi terhadap hak manfaat yang akan diterima di masa depan.

Aktuaris kemudian memperkirakan manfaat tersebut berdasarkan kondisi dan asumsi yang relevan, termasuk proyeksi gaji dan kemungkinan karyawan tetap bekerja sampai waktu manfaat diberikan.

Setelah itu, manfaat masa depan tersebut dihitung nilai kininya.

Hasil agregasinya menjadi dasar untuk menentukan kewajiban imbalan kerja perusahaan. Salah satu hasil pentingnya adalah PVDBO, yaitu nilai kini dari kewajiban manfaat pasti yang telah diperoleh karyawan sampai tanggal valuasi.

Bagi pembaca non-aktuaria, cara paling sederhana memahaminya adalah: aktuaris mengubah informasi tentang karyawan hari ini menjadi estimasi nilai kewajiban perusahaan di masa depan, lalu menghitung berapa nilainya jika dinilai pada hari ini.

Kesalahan Data Bisa Berubah Menjadi Risiko Laporan Keuangan

Kompleksitas proses ini menunjukkan mengapa valuasi aktuaria tidak cukup hanya mengandalkan formula spreadsheet.

Satu data karyawan yang salah dapat memengaruhi hasil perhitungan. Demikian pula asumsi yang tidak sesuai atau tidak terdokumentasi dengan baik dapat menimbulkan pertanyaan ketika angka tersebut diperiksa dalam proses audit.

Risikonya bukan hanya soal mendapatkan angka yang berbeda.

Jika kewajiban imbalan kerja tidak dihitung dengan metodologi dan asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan, perusahaan dapat menghadapi koreksi, permintaan penjelasan tambahan, atau proses audit yang menjadi lebih panjang.

Karena itu, laporan aktuaria perlu dilihat bukan sekadar sebagai dokumen pendukung audit, tetapi sebagai bagian dari proses pengelolaan risiko laporan keuangan.

Data Aktuaria Juga Membantu Manajemen Melihat ke Depan

Manfaat valuasi aktuaria sebenarnya tidak berhenti pada kebutuhan akuntansi.

Ketika perusahaan memahami bagaimana usia karyawan, masa kerja, gaji, turnover, dan kondisi pasar memengaruhi kewajiban imbalan kerja, manajemen mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai potensi beban SDM di masa mendatang.

Informasi tersebut dapat membantu Finance dalam menyusun anggaran dan membantu HR memahami konsekuensi finansial dari perubahan struktur tenaga kerja.

Dengan kata lain, valuasi aktuaria dapat menjadi alat untuk mendukung pengambilan keputusan, bukan hanya memenuhi kebutuhan laporan keuangan.

Membaca Masa Depan Membutuhkan Metodologi yang Tepat

Data perusahaan memang tersedia setiap hari. Namun mengubah data tersebut menjadi estimasi kewajiban yang dapat dipertanggungjawabkan membutuhkan metode, asumsi, dan keahlian yang tepat.

Itulah alasan proses valuasi aktuaria sebaiknya ditangani oleh tenaga profesional yang memahami perhitungan manfaat karyawan, metodologi aktuaria, dan kebutuhan pelaporan keuangan. OJK sendiri secara berkala menerbitkan direktori konsultan aktuaria yang terdaftar.

Perusahaan tidak perlu membangun seluruh model perhitungan sendiri. HR dan Finance dapat berfokus pada penyediaan data yang benar dan memahami hasilnya, sementara proses teknis dapat ditangani oleh konsultan aktuaria.

Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam menghitung kewajiban imbalan kerja untuk kebutuhan audit maupun pelaporan keuangan, imbalankerja.id siap membantu melalui jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang terstruktur dan terdokumentasi dengan baik. Dengan dukungan konsultan aktuaria, perusahaan dapat memperoleh valuasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan sekaligus memahami bagaimana kondisi tenaga kerja hari ini dapat memengaruhi kewajiban perusahaan di masa depan.

Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?

Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.