
Jika perusahaan Anda sudah cukup mapan, kemungkinan besar Anda sudah mulai mencadangkan dana pensiun untuk karyawan melalui pihak ketiga, seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Dana yang Anda setorkan setiap bulan ini tidak sekadar mengendap, melainkan diinvestasikan agar terus bertumbuh.
Dalam bahasa akuntansi dan aktuaria, tabungan khusus pensiun ini disebut sebagai Aset Program. Karena uang tersebut diinvestasikan, tentu perusahaan mengharapkan adanya hasil pengembangan atau keuntungan di masa depan.
Namun, bagaimana cara perusahaan mencatat proyeksi keuntungan investasi ini ke dalam laporan keuangan tahunan? Di sinilah kita mengenal istilah expected return atau imbal hasil yang diharapkan. Mari kita bahas cara menghitungnya dengan bahasa yang sederhana.
Aturan Dulu vs Sekarang yang Lebih Simpel
Beberapa tahun yang lalu, menghitung expected return adalah pekerjaan yang cukup memusingkan. Perusahaan harus menebak-nebak berapa persen keuntungan yang akan didapat berdasarkan jenis investasinya. Jika dana ditaruh di saham, asumsi keuntungannya mungkin dipatok tinggi. Jika ditaruh di deposito, asumsinya lebih rendah.
Cara lama ini ternyata membuat laporan keuangan menjadi terlalu subjektif dan rawan dipermainkan agar terlihat bagus. Oleh karena itu, standar akuntansi modern (seperti PSAK yang berlaku saat ini) merombak total cara perhitungan tersebut menjadi jauh lebih sederhana dan terstandarisasi.
Sekarang, Anda tidak perlu lagi repot-repot memisahkan jenis portofolio investasi untuk menebak hasil keuntungannya.
Rumus Dasar Menghitung Expected Return
Aturan akuntansi saat ini menggunakan pendekatan yang disebut bunga neto. Pendekatan ini membuat perhitungan expected return menjadi sangat matematis dan seragam untuk semua perusahaan.
Caranya sangat mudah. Anda hanya perlu mengalikan total saldo tabungan pensiun (Aset Program) di awal tahun dengan Tingkat Diskonto.
Tingkat diskonto ini adalah persentase suku bunga acuan (biasanya mengacu pada obligasi pemerintah atau obligasi perusahaan berkualitas tinggi) yang juga digunakan untuk menghitung total utang pensiun perusahaan. Jadi, persentase pengalinya sudah ditetapkan secara objektif di awal, bukan berdasarkan tebakan manajemen.
Ekspektasi vs Realita Pasar
Tentu saja dalam dunia nyata investasi selalu bergerak naik turun. Angka expected return yang sudah dihitung menggunakan tingkat diskonto tadi hanyalah angka proyeksi yang dicatat sebagai pengurang beban pensiun di laporan laba rugi perusahaan.
Lalu, bagaimana jika pada akhir tahun keuntungan investasi aslinya (realita pasar) jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari proyeksi expected return tadi?
Selisih antara kenyataan dan proyeksi ini tidak akan mengganggu laporan laba rugi operasional harian perusahaan Anda. Selisih tersebut akan dicatat dalam keranjang khusus di laporan keuangan yang bernama Pendapatan Komprehensif Lainnya. Dengan sistem ini, laba operasional bisnis Anda tetap aman dari naik turunnya kondisi pasar modal.
Langkah Pasti Mengamankan Kewajiban Masa Depan
Mengelola tabungan masa depan karyawan dan memastikan pencatatannya sesuai dengan standar akuntansi memang membutuhkan ketelitian. Aturan yang terus diperbarui mengharuskan perusahaan untuk menyajikan laporan keuangan yang tidak hanya mencerminkan kondisi kas hari ini, tetapi juga kesiapan finansial di masa depan. Anda sebagai pemilik bisnis atau pimpinan HR tidak perlu memusingkan deretan rumus matematis dan regulasi ini sendirian.
Proses perhitungan kewajiban karyawan membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus agar laporan keuangan Anda tetap sehat dan bebas dari teguran auditor. Percayakan urusan ini kepada ahlinya agar Anda bisa kembali fokus mengembangkan omzet bisnis. Kami di imbalankerja.id hadir sebagai konsultan aktuaria tepercaya yang siap memberikan layanan jasa perhitungan imbalan kerja karyawan secara akurat, transparan, dan sesuai standar akuntansi terbaru.
Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?
Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.
