Banyak perusahaan menganggap salary scale atau asumsi kenaikan gaji tahunan hanya sebagai angka pelengkap dalam laporan aktuaria. Padahal, asumsi ini merupakan salah satu faktor yang paling memengaruhi besarnya kewajiban imbalan kerja yang dicatat dalam laporan keuangan.

Tidak sedikit perusahaan yang menggunakan angka kenaikan gaji secara asal, misalnya langsung menetapkan 10% per tahun karena dianggap “aman”. Akibatnya, nilai kewajiban imbalan kerja bisa menjadi terlalu tinggi atau justru terlalu rendah. Dampaknya tidak hanya pada laporan aktuaria, tetapi juga pada neraca, laba rugi, dan proses audit.

Apa Itu Salary Scale dalam Aktuaria?

Dalam valuasi aktuaria, salary scale adalah asumsi mengenai tingkat kenaikan gaji karyawan di masa depan yang digunakan untuk memproyeksikan manfaat pesangon, pensiun, dan imbalan pascakerja lainnya.

Karena manfaat imbalan kerja umumnya dihitung berdasarkan gaji terakhir saat karyawan pensiun atau berhenti bekerja, aktuaris perlu memperkirakan terlebih dahulu bagaimana perkembangan gaji tersebut selama bertahun-tahun ke depan.

Dengan kata lain, salary scale bukan sekadar melihat kenaikan gaji tahun lalu. Tujuannya adalah memperkirakan pola kenaikan gaji yang realistis hingga masa pensiun karyawan.

Faktor yang Digunakan dalam Menentukan Salary Scale

Dalam praktik aktuaria, terdapat beberapa faktor utama yang biasanya digunakan.

1. Riwayat Kenaikan Gaji Perusahaan

Langkah pertama adalah melihat data historis perusahaan.

Beberapa pertanyaan yang biasanya dianalisis:

  • Berapa rata-rata kenaikan gaji selama 5 tahun terakhir?
  • Apakah kenaikan bersifat stabil atau fluktuatif?
  • Apakah terdapat kebijakan khusus terkait promosi dan penyesuaian inflasi?

Data historis sering menjadi dasar awal karena mencerminkan kebijakan perusahaan yang sebenarnya.

2. Inflasi dan Kondisi Ekonomi

Kenaikan gaji biasanya memiliki hubungan dengan tingkat inflasi.

Jika inflasi meningkat dalam jangka panjang, perusahaan cenderung melakukan penyesuaian kompensasi agar daya beli karyawan tetap terjaga.

Karena itu, aktuaris juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dan proyeksi jangka panjang saat menetapkan asumsi salary scale.

3. Karakteristik Industri

Setiap industri memiliki pola kenaikan gaji yang berbeda.

Misalnya:

  • Industri teknologi sering memiliki kenaikan gaji yang lebih agresif.
  • Industri manufaktur biasanya lebih stabil.
  • Sektor yang sedang bertumbuh cepat dapat memiliki tingkat kenaikan yang lebih tinggi dibanding sektor yang sudah matang.

Menggunakan benchmark industri dapat membantu menghasilkan asumsi yang lebih realistis.

4. Struktur Usia dan Jabatan Karyawan

Karyawan muda biasanya mengalami kenaikan gaji lebih cepat dibandingkan karyawan senior.

Dalam praktik terbaik, salary scale dapat dibuat berbeda berdasarkan kelompok usia atau masa kerja. Sebagai contoh, kelompok usia muda dapat memiliki asumsi kenaikan lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang mendekati pensiun.

Apakah Salary Scale Harus Sama untuk Semua Karyawan?

Tidak selalu.

Secara sederhana, banyak perusahaan menggunakan satu angka rata-rata untuk seluruh populasi karyawan.

Namun pada perusahaan yang memiliki jumlah karyawan besar, aktuaris sering menggunakan pendekatan yang lebih rinci, misalnya:

  • Kelompok staf junior
  • Kelompok supervisor dan manajer
  • Kelompok senior management

Pendekatan ini biasanya menghasilkan proyeksi yang lebih mencerminkan kondisi aktual perusahaan.

Dampak Salary Scale terhadap Kewajiban Imbalan Kerja

Inilah alasan mengapa salary scale menjadi sangat penting.

Semakin tinggi asumsi kenaikan gaji, semakin tinggi pula proyeksi manfaat yang akan dibayarkan di masa depan. Akibatnya, kewajiban imbalan kerja yang dicatat dalam laporan keuangan juga akan meningkat.

Sebaliknya, jika salary scale terlalu rendah, kewajiban yang dicatat dapat menjadi lebih kecil dari kondisi yang sebenarnya.

Perbedaan satu atau dua persen saja pada asumsi salary scale dapat menghasilkan perubahan nilai kewajiban yang cukup signifikan, terutama untuk perusahaan dengan jumlah karyawan besar dan masa kerja panjang.

Bagi Finance Manager dan CFO, hal ini penting karena dapat memengaruhi:

  • Nilai liabilitas pada neraca
  • Beban imbalan kerja pada laba rugi
  • Hasil valuasi aktuaria tahunan
  • Proses audit laporan keuangan

Risiko Jika Salary Scale Ditentukan Secara Sembarangan

Kesalahan dalam menentukan salary scale tidak selalu langsung terlihat.

Masalah biasanya muncul ketika auditor meminta dasar asumsi yang digunakan.

Jika perusahaan tidak memiliki dokumentasi yang memadai atau menggunakan asumsi yang tidak dapat dijelaskan secara logis, auditor dapat meminta klarifikasi tambahan terhadap laporan aktuaria dan angka kewajiban yang dilaporkan.

Selain itu, asumsi yang terlalu optimistis atau terlalu konservatif dapat menyebabkan manajemen mengambil keputusan yang kurang tepat terkait perencanaan biaya SDM dan pengelolaan kewajiban jangka panjang.

Karena itu, salary scale sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan perkiraan atau kebiasaan tahun sebelumnya.

Mengapa Penentuan Salary Scale Membutuhkan Analisis Aktuaria?

Sekilas, salary scale terlihat sederhana karena hanya berupa persentase kenaikan gaji.

Namun dalam valuasi aktuaria, asumsi ini harus konsisten dengan berbagai asumsi lain seperti tingkat diskonto, usia pensiun, tingkat turnover, dan karakteristik populasi karyawan.

Kesalahan dalam satu asumsi dapat memengaruhi seluruh hasil perhitungan kewajiban imbalan kerja.

Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa salary scale ditetapkan menggunakan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan kebutuhan PSAK 219 maupun audit laporan keuangan.

Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam menentukan asumsi aktuaria yang tepat, menyusun laporan aktuaria, atau melakukan valuasi kewajiban imbalan kerja, tim imbalankerja.id siap membantu melalui jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang akurat dan terdokumentasi dengan baik. Dengan dukungan konsultan aktuaria yang berpengalaman, perusahaan dapat meningkatkan kepatuhan terhadap PSAK 219 sekaligus memperoleh informasi yang lebih andal untuk pengambilan keputusan bisnis.

Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?

Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.