
Bagi perusahaan, imbalan kerja bukan hanya tentang berapa besar pesangon atau manfaat yang akan diterima karyawan ketika masa kerja berakhir. Di baliknya terdapat kewajiban keuangan yang perlu dipersiapkan sejak sekarang.
Banyak perusahaan baru memperhatikan kewajiban tersebut ketika tutup buku atau saat auditor meminta laporan aktuaria. Padahal, imbalan kerja berkaitan dengan hak karyawan yang terbentuk selama mereka bekerja dan dapat memengaruhi laporan keuangan perusahaan.
PSAK 219 mengatur akuntansi dan pengungkapan imbalan kerja. Dalam standar akuntansi Indonesia yang efektif sejak 1 Januari 2025, PSAK 24 telah menggunakan penomoran baru menjadi PSAK 219.
Imbalan Kerja Bukan Sekadar Pesangon
Ketika membicarakan imbalan kerja, banyak orang langsung mengaitkannya dengan pesangon. Padahal cakupannya lebih luas.
PSAK 219 mencakup berbagai bentuk imbalan, termasuk imbalan kerja jangka pendek dan imbalan pascakerja. Imbalan pascakerja sendiri dapat berupa manfaat pensiun maupun manfaat lain yang diterima setelah karyawan menyelesaikan masa kerjanya.
Artinya, perusahaan perlu melihat imbalan kerja sebagai bagian dari kewajiban jangka panjang, bukan sekadar biaya yang muncul ketika seorang karyawan berhenti bekerja.
Semakin besar jumlah karyawan dan semakin panjang masa kerja mereka, semakin penting bagi perusahaan memahami berapa besar kewajiban yang sedang terbentuk.
Masa Depan Karyawan Menjadi Kewajiban Perusahaan Hari Ini
Salah satu tantangan dalam menghitung imbalan kerja adalah adanya perbedaan antara waktu manfaat diperoleh dan waktu manfaat dibayarkan.
Seorang karyawan mungkin baru menerima manfaat beberapa tahun atau bahkan belasan tahun mendatang. Namun hak atas manfaat tersebut dapat terbentuk sedikit demi sedikit selama masa kerja.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya melihat kondisi karyawan hari ini.
Perhitungan perlu mempertimbangkan data karyawan, masa kerja, usia, proyeksi gaji, kemungkinan karyawan tetap bekerja sampai masa tertentu, serta asumsi lain yang relevan.
Dalam program imbalan pasti, pendekatan aktuaria digunakan untuk mengukur kewajiban tersebut. Salah satu bagian pentingnya adalah metode Projected Unit Credit, yang membagi hak manfaat berdasarkan masa kerja dan memperhitungkan nilai manfaat yang akan diterima di masa depan.
Hasil perhitungan kemudian menjadi dasar untuk menentukan kewajiban imbalan kerja yang perlu tercermin dalam laporan keuangan.
Mengapa Angkanya Bisa Berubah Setiap Tahun?
Perusahaan sering bertanya mengapa kewajiban imbalan kerja bisa berubah meskipun jumlah karyawan tidak banyak berubah.
Penyebabnya adalah perhitungan aktuaria menggunakan berbagai asumsi yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Contohnya adalah tingkat diskonto dan asumsi kenaikan gaji. Kondisi pasar juga dapat memengaruhi asumsi yang digunakan dalam valuasi. Perubahan asumsi tersebut dapat menyebabkan nilai kewajiban yang dilaporkan perusahaan meningkat atau menurun.
Selain faktor keuangan, kondisi demografis juga berpengaruh. Perubahan tingkat turnover atau karakteristik populasi karyawan dapat mengubah estimasi kewajiban.
Inilah alasan mengapa perhitungan imbalan kerja tidak sebaiknya menggunakan angka tahun sebelumnya tanpa melakukan evaluasi kembali.
Dampaknya terhadap HR, Finance, dan Manajemen
Bagi Finance, kewajiban imbalan kerja berhubungan langsung dengan penyajian laporan keuangan. Kesalahan dalam perhitungan dapat menyebabkan angka kewajiban yang dilaporkan tidak mencerminkan kondisi yang semestinya.
Bagi HR, informasi tersebut juga penting untuk perencanaan tenaga kerja. Perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai potensi biaya yang muncul dari struktur usia, masa kerja, dan perkembangan gaji karyawan.
Bagi manajemen, informasi aktuaria dapat menjadi salah satu dasar untuk membuat keputusan yang lebih baik terkait anggaran SDM dan kewajiban jangka panjang.
Dengan kata lain, laporan aktuaria seharusnya tidak dipandang hanya sebagai dokumen untuk memenuhi permintaan auditor. Informasi tersebut dapat membantu perusahaan memahami konsekuensi keuangan dari kebijakan ketenagakerjaan yang diterapkan.
Risiko Jika Perhitungan Tidak Dilakukan dengan Tepat
Kesalahan perhitungan dapat bermula dari hal yang terlihat sederhana, seperti data karyawan yang tidak lengkap atau asumsi yang tidak diperbarui.
Namun dampaknya dapat menjadi lebih besar ketika angka tersebut masuk ke laporan keuangan.
Perusahaan dapat menghadapi pertanyaan auditor mengenai dasar perhitungan, asumsi yang digunakan, maupun dokumentasi pendukung. Jika terdapat kesalahan material, perusahaan juga dapat membutuhkan koreksi terhadap laporan keuangannya.
Risiko lainnya adalah perusahaan tidak memiliki gambaran yang cukup baik mengenai kewajiban yang akan muncul di masa depan.
Jika kewajiban aktual ternyata lebih besar dari estimasi, manajemen dapat menghadapi kebutuhan dana yang tidak sesuai dengan perencanaan sebelumnya.
Karena itu, kualitas data dan metodologi perhitungan menjadi bagian penting dalam pengelolaan imbalan kerja.
Perhitungan yang Tepat Membantu Perusahaan Mempersiapkan Masa Depan
Mengelola imbalan kerja dengan baik bukan berarti perusahaan harus memperkirakan seluruh kondisi masa depan secara sempurna.
Yang lebih penting adalah menggunakan data yang memadai, metodologi yang tepat, dan asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Proses tersebut membutuhkan keahlian khusus karena perhitungan imbalan kerja melibatkan aspek aktuaria, akuntansi, data karyawan, serta ketentuan yang berlaku.
Bagi perusahaan, menggunakan bantuan profesional juga dapat membuat proses penyusunan laporan lebih terstruktur. Data dapat diperiksa, asumsi dapat didokumentasikan, dan hasil valuasi dapat digunakan sebagai dasar komunikasi dengan tim Finance maupun auditor.
Menyiapkan Kewajiban Karyawan dengan Lebih Terukur
Imbalan kerja pada dasarnya merupakan bagian dari hubungan jangka panjang antara perusahaan dan karyawan. Hak yang diperoleh karyawan selama bekerja pada akhirnya memiliki konsekuensi keuangan bagi perusahaan.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa kewajiban tersebut dihitung secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan dalam laporan keuangan.
Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam penyusunan laporan aktuaria untuk kebutuhan audit maupun kepatuhan PSAK 219, tim imbalankerja.id siap membantu melalui jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang akurat dan terdokumentasi dengan baik.
Dengan dukungan konsultan aktuaria, perusahaan dapat lebih mudah memahami kewajiban imbalan kerja, mempersiapkan kebutuhan pelaporan, dan memperoleh dasar yang lebih kuat untuk perencanaan keuangan jangka panjang.
Silakan hubungi tim imbalankerja.id untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda.
Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?
Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.
