Dulu, banyak perusahaan hanya mengenal aktuaris sebagai profesi yang bekerja di perusahaan asuransi. Namun, kondisi tersebut telah berubah. Semakin banyak perusahaan dari berbagai sektor kini membutuhkan keahlian aktuaris, terutama untuk membantu penyusunan laporan keuangan, pengelolaan risiko, dan perhitungan kewajiban imbalan kerja.

Perubahan standar akuntansi, meningkatnya tuntutan audit, serta kebutuhan akan pengambilan keputusan yang didasarkan pada data membuat peran aktuaris semakin penting. Bagi tim HR, Finance, maupun manajemen perusahaan, memahami alasan di balik meningkatnya kebutuhan terhadap profesi ini dapat membantu mengurangi berbagai risiko bisnis di kemudian hari.

Perusahaan Membutuhkan Perhitungan yang Lebih Akurat

Keputusan bisnis sering kali bergantung pada angka dalam laporan keuangan. Jika angka tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, perusahaan berisiko mengambil keputusan yang kurang tepat.

Salah satu contohnya adalah kewajiban imbalan kerja karyawan. Nilainya tidak cukup dihitung menggunakan rumus sederhana karena harus mempertimbangkan berbagai faktor, seperti masa kerja, usia karyawan, proyeksi kenaikan gaji, hingga kondisi ekonomi yang memengaruhi nilai kewajiban di masa depan.

Di sinilah aktuaris berperan. Mereka menggunakan metodologi yang sesuai dengan standar yang berlaku sehingga hasil perhitungan dapat dipertanggungjawabkan.

Regulasi dan Standar Akuntansi Semakin Kompleks

Perusahaan saat ini juga menghadapi tuntutan kepatuhan yang semakin tinggi. Dalam penyusunan laporan keuangan, misalnya, perhitungan kewajiban imbalan kerja harus mengikuti ketentuan PSAK 219.

Standar tersebut mensyaratkan penggunaan metode dan asumsi aktuaria yang tepat dalam mengukur kewajiban manfaat pasti. Kesalahan dalam menentukan asumsi atau metode perhitungan dapat memengaruhi nilai liabilitas yang disajikan pada laporan keuangan.

Bagi perusahaan yang menjalani audit, dokumentasi dan dasar perhitungan menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan hasil akhirnya.

Risiko Bisnis Tidak Lagi Bisa Diabaikan

Semakin besar jumlah karyawan, semakin besar pula potensi kewajiban yang harus dikelola perusahaan.

Jika kewajiban imbalan kerja dihitung terlalu rendah, perusahaan dapat menghadapi kekurangan dana ketika banyak karyawan memasuki masa pensiun atau terjadi pemutusan hubungan kerja. Sebaliknya, jika nilainya terlalu tinggi, laporan keuangan juga tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.

Selain itu, perhitungan yang tidak didukung metodologi yang tepat dapat menimbulkan pertanyaan dari auditor. Akibatnya, proses audit dapat menjadi lebih panjang, memerlukan perhitungan ulang, bahkan berpotensi memengaruhi kualitas laporan keuangan.

Karena itu, keberadaan aktuaris tidak hanya membantu menghasilkan angka, tetapi juga membantu perusahaan mengelola risiko yang berkaitan dengan kepatuhan, audit, dan perencanaan keuangan.

Aktuaris Mendukung Pengambilan Keputusan Manajemen

Peran aktuaris tidak berhenti pada penyusunan laporan aktuaria.

Hasil valuasi yang akurat dapat menjadi dasar bagi manajemen untuk menyusun anggaran SDM, memperkirakan kebutuhan kas di masa depan, serta mengevaluasi dampak perubahan kebijakan perusahaan terhadap kewajiban imbalan kerja.

Dengan informasi yang lebih akurat, perusahaan dapat mengambil keputusan bisnis dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi dan mengurangi kemungkinan munculnya biaya yang tidak terduga.

Kebutuhan Aktuaris Tidak Hanya di Perusahaan Asuransi

Saat ini, jasa aktuaris digunakan oleh berbagai jenis perusahaan, baik perusahaan manufaktur, perdagangan, jasa, pertambangan, teknologi, hingga perusahaan milik negara.

Kebutuhan tersebut umumnya muncul ketika perusahaan harus menyusun laporan keuangan yang diaudit, memenuhi ketentuan PSAK 219, melakukan valuasi aktuaria, atau menghitung kewajiban imbalan kerja secara periodik.

Artinya, profesi aktuaris kini menjadi bagian penting dalam mendukung tata kelola perusahaan yang lebih baik, bukan hanya industri keuangan.

Saatnya Memastikan Perhitungan Dilakukan Secara Tepat

Meningkatnya kebutuhan terhadap profesi aktuaris menunjukkan bahwa pengelolaan kewajiban imbalan kerja dan kepatuhan akuntansi tidak lagi dapat dilakukan hanya berdasarkan estimasi sederhana.

Perhitungan yang akurat membutuhkan metodologi yang sesuai, asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta dokumentasi yang mendukung proses audit. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko koreksi laporan keuangan sekaligus memperoleh informasi yang lebih andal untuk pengambilan keputusan.

Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam penyusunan laporan aktuaria untuk kebutuhan audit maupun kepatuhan PSAK 219, tim imbalankerja.id siap membantu melalui jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang akurat dan terdokumentasi dengan baik. Didukung oleh konsultan aktuaria yang berpengalaman, kami membantu perusahaan menyusun valuasi aktuaria sesuai kebutuhan pelaporan keuangan dan praktik yang berlaku.

Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?

Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.