Menjelang tutup buku, perusahaan sering menghadapi situasi yang tidak terduga: nilai kewajiban imbalan kerja ternyata berubah cukup besar dibandingkan periode sebelumnya.

Bagi HR, angka tersebut mungkin terlihat sebagai hasil perhitungan aktuaria. Namun bagi Finance dan manajemen, perubahan itu dapat memengaruhi laporan keuangan, anggaran, hingga proses audit.

Masalahnya, perubahan kewajiban imbalan kerja sebenarnya bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Banyak faktor yang dapat memengaruhinya, dan sebagian besar dapat dipantau jika perusahaan memahami bagaimana valuasi aktuaria bekerja.

Mengapa Kewajiban Imbalan Kerja Bisa Berubah?

Kewajiban imbalan kerja tidak hanya bergantung pada jumlah karyawan dan gaji saat ini. Aktuaris perlu memperkirakan manfaat yang akan diterima karyawan di masa depan, kemudian menghitung nilai kewajiban tersebut berdasarkan kondisi pada tanggal valuasi.

Beberapa faktor dapat menyebabkan nilainya berubah.

Pertama, perubahan jumlah dan karakteristik karyawan. Karyawan baru, karyawan yang mengundurkan diri, perubahan usia rata-rata, maupun perubahan masa kerja dapat memengaruhi total kewajiban.

Kedua, kenaikan gaji. Manfaat tertentu berkaitan dengan penghasilan karyawan. Jika asumsi kenaikan gaji berubah, proyeksi manfaat di masa depan juga dapat berubah.

Ketiga, tingkat diskonto. Tingkat ini digunakan untuk mengubah nilai manfaat yang akan dibayarkan di masa depan menjadi nilai kini. Perubahan kondisi pasar obligasi dapat membuat tingkat diskonto berubah dari tahun sebelumnya.

Keempat, tingkat turnover atau perputaran karyawan. Jika lebih banyak karyawan diperkirakan berhenti sebelum mencapai masa manfaat, estimasi kewajiban dapat ikut berubah.

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya melihat apakah jumlah karyawan bertambah atau berkurang. Perubahan asumsi dan kondisi ekonomi juga perlu diperhatikan.

“Surprise” Terbesar Biasanya Terjadi Saat Angka Sudah Masuk Laporan Keuangan

Risiko muncul ketika perubahan tersebut baru diketahui pada saat laporan aktuaria selesai atau ketika proses audit sudah berjalan.

Misalnya, Finance telah membuat anggaran berdasarkan estimasi kewajiban tahun sebelumnya. Kemudian hasil valuasi terbaru menunjukkan kewajiban yang lebih besar.

Perusahaan mungkin harus melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut juga dapat memengaruhi laba rugi atau komponen penghasilan komprehensif lainnya sesuai perlakuan akuntansi yang berlaku.

Bagi perusahaan, persoalannya bukan hanya angka yang berubah.

Jika prosesnya terlambat, tim Finance dapat memiliki waktu yang lebih terbatas untuk melakukan rekonsiliasi. Auditor juga dapat meminta penjelasan mengenai perubahan data, asumsi, dan metodologi yang digunakan.

Karena itu, valuasi aktuaria sebaiknya tidak dipandang sebagai pekerjaan administratif yang dilakukan setelah semua proses keuangan selesai.

Aktuaria Membantu Mengidentifikasi Faktor yang Mendorong Perubahan

Salah satu manfaat penting menggunakan aktuaris bukan sekadar memperoleh satu angka kewajiban.

Valuasi aktuaria membantu perusahaan memahami mengapa angka tersebut berubah.

Dalam prosesnya, data karyawan perlu diperiksa terlebih dahulu. Kesalahan tanggal lahir, tanggal mulai bekerja, status karyawan, atau data penghasilan dapat memengaruhi hasil perhitungan. Prinsipnya sederhana: kualitas hasil valuasi sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan.

Setelah data tersedia, aktuaris menetapkan asumsi yang relevan dan menggunakan metodologi yang sesuai dengan PSAK 219. Untuk manfaat pasti, metode Projected Unit Credit digunakan untuk memperkirakan kewajiban berdasarkan manfaat yang akan diperoleh karyawan dan masa kerja mereka.

Dengan pendekatan tersebut, perubahan kewajiban dapat dianalisis berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkannya, bukan hanya dibandingkan sebagai angka akhir.

Apa Dampaknya bagi HR dan Finance?

Bagi HR, informasi aktuaria dapat membantu memberikan gambaran mengenai perkembangan kewajiban perusahaan yang berkaitan dengan tenaga kerja.

Bagi Finance, informasi tersebut lebih penting lagi karena kewajiban imbalan kerja masuk dalam pelaporan keuangan dan dapat menjadi bagian dari pembahasan audit.

Dengan mengetahui faktor yang berpotensi mengubah kewajiban sejak awal, perusahaan dapat melakukan persiapan yang lebih baik.

Misalnya, perusahaan dapat memperbarui data karyawan secara berkala, memantau perubahan struktur tenaga kerja, serta memastikan informasi mengenai kebijakan gaji dan manfaat tersedia sebelum proses valuasi dimulai.

Pendekatan seperti ini membantu mengurangi kemungkinan perusahaan baru mengetahui adanya masalah ketika laporan keuangan sudah mendekati batas waktu penyelesaian.

Perusahaan Tidak Harus Menunggu Sampai Audit

Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap laporan aktuaria hanya diperlukan ketika auditor memintanya.

Padahal, proses valuasi dapat memberikan informasi yang berguna sebelum tahap audit. Perusahaan dapat menggunakan hasilnya untuk memahami besarnya kewajiban, mengevaluasi perubahan dari periode sebelumnya, dan mempersiapkan penjelasan yang diperlukan dalam laporan keuangan.

Laporan aktuaria yang disusun dengan metodologi dan asumsi yang terdokumentasi juga membantu Finance ketika harus menjelaskan perubahan kewajiban kepada auditor.

Sebaliknya, perhitungan internal yang tidak memiliki dasar metodologis yang jelas dapat meningkatkan risiko koreksi atau pekerjaan tambahan ketika audit berlangsung. Contoh artikel imbalankerja.id menunjukkan bahwa penggunaan template spreadsheet sederhana memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan perubahan asumsi, data demografis, dan ketentuan yang berlaku.

Jadikan Valuasi Aktuaria sebagai Alat Perencanaan

Aktuaria seharusnya tidak hanya digunakan untuk menghasilkan angka pada akhir tahun.

Dengan proses yang dilakukan secara tepat, perusahaan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan kewajiban imbalan kerja dan faktor yang memengaruhinya.

Hal ini membantu manajemen mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih terukur, sementara HR dan Finance dapat mempersiapkan kebutuhan data serta pelaporan dengan lebih baik.

Pada akhirnya, “surprise” dalam kewajiban imbalan kerja bukan berarti perubahan tidak dapat terjadi. Kondisi ekonomi, struktur karyawan, gaji, dan berbagai asumsi memang dapat berubah.

Yang dapat dilakukan perusahaan adalah memastikan perubahan tersebut terukur, dapat dijelaskan, dan diketahui pada waktu yang tepat.

Siapkan Perhitungan Sebelum Menjadi Masalah

Kewajiban imbalan kerja memiliki banyak variabel yang saling berkaitan. Karena itu, perhitungannya membutuhkan metodologi yang tepat, data yang memadai, serta asumsi aktuaria yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perusahaan tidak perlu menangani seluruh proses tersebut sendiri. Dukungan konsultan aktuaria dapat membantu memastikan valuasi dilakukan secara terstruktur dan laporan yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan pelaporan keuangan maupun audit.

Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam penyusunan laporan aktuaria, imbalankerja.id menyediakan jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang akurat, terdokumentasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Silakan hubungi tim imbalankerja.id untuk mendiskusikan kebutuhan valuasi aktuaria perusahaan Anda.

Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?

Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.