
Banyak perusahaan merasa bingung ketika angka kewajiban imbalan kerja berubah dari tahun ke tahun, padahal jumlah karyawan terlihat tidak banyak berubah.
Pertanyaannya sederhana: kalau karyawan yang dihitung hampir sama, mengapa angka aktuaria bisa naik atau turun?
Jawabannya adalah karena angka aktuaria bukan sekadar hasil menjumlahkan gaji dan masa kerja. Angka tersebut merupakan estimasi kewajiban perusahaan dengan mempertimbangkan kondisi karyawan, asumsi keuangan, kondisi pasar, serta berbagai kemungkinan yang terjadi sampai manfaat tersebut dibayarkan.
Karena itu, angka aktuaria memang bersifat dinamis. Perubahan angka tidak selalu berarti ada kesalahan dalam perhitungan.
Angka Aktuaria Bukan Angka yang Statis
Dalam valuasi aktuaria, perusahaan menghitung kewajiban imbalan kerja berdasarkan kondisi pada tanggal valuasi.
Artinya, aktuaris tidak hanya melihat kondisi perusahaan hari ini. Perhitungan juga mempertimbangkan bagaimana kewajiban tersebut kemungkinan berkembang di masa depan.
Misalnya, seorang karyawan masih berusia 35 tahun. Manfaat yang menjadi kewajiban perusahaan mungkin baru dibayarkan bertahun-tahun kemudian.
Selama periode tersebut, gaji dapat berubah, karyawan dapat berhenti bekerja, asumsi ekonomi dapat berubah, dan kondisi pasar obligasi juga dapat bergerak.
Setiap perubahan tersebut dapat memengaruhi nilai kewajiban yang dihitung.
Inilah alasan angka aktuaria lebih tepat dipahami sebagai estimasi kewajiban berdasarkan kondisi dan asumsi pada tanggal tertentu, bukan angka yang akan selalu sama setiap tahun.
Mengapa Angkanya Bisa Naik atau Turun?
Ada beberapa faktor utama yang membuat hasil valuasi aktuaria berubah.
1. Tingkat Diskonto Berubah
Tingkat diskonto merupakan salah satu faktor yang sangat sensitif dalam perhitungan.
Secara sederhana, diskonto digunakan untuk mengubah nilai manfaat yang akan dibayarkan di masa depan menjadi nilai yang relevan pada tanggal laporan.
Ketika tingkat diskonto berubah, nilai kewajiban juga dapat berubah.
Jika tingkat diskonto turun, nilai kini kewajiban umumnya menjadi lebih besar. Sebaliknya, kenaikan tingkat diskonto dapat menurunkan nilai kini kewajiban.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan tersebut dapat terjadi meskipun jumlah karyawan dan gaji saat ini tidak mengalami perubahan signifikan.
Karena itu, Finance tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa kenaikan liabilitas berarti perusahaan melakukan kesalahan.
Bisa jadi perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan kondisi pasar dan asumsi valuasi.
2. Asumsi Kenaikan Gaji Berubah
Manfaat karyawan biasanya berkaitan dengan penghasilan atau gaji pada masa mendatang.
Karena itu, aktuaris perlu membuat proyeksi mengenai kenaikan gaji.
Jika asumsi kenaikan gaji berubah, estimasi manfaat yang akan diterima karyawan di masa depan juga dapat berubah.
Dampaknya kemudian masuk ke dalam perhitungan kewajiban imbalan kerja.
Bagi perusahaan dengan jumlah karyawan besar atau banyak karyawan dengan masa kerja panjang, perubahan asumsi seperti ini dapat memberikan dampak yang cukup material terhadap laporan keuangan.
3. Komposisi Karyawan Berubah
Angka aktuaria juga dipengaruhi oleh data karyawan.
Karyawan baru, karyawan yang mengundurkan diri, perubahan usia, perubahan masa kerja, promosi, kenaikan gaji, hingga perubahan status kepegawaian dapat memengaruhi hasil valuasi.
Bayangkan dua perusahaan memiliki jumlah karyawan yang sama-sama 500 orang.
Belum tentu kewajiban imbalan kerja keduanya sama.
Jika perusahaan pertama memiliki lebih banyak karyawan senior dengan masa kerja panjang, kewajibannya dapat berbeda secara signifikan dari perusahaan kedua yang memiliki mayoritas karyawan berusia lebih muda.
Jadi, jumlah kepala karyawan saja tidak cukup untuk menjelaskan perubahan angka aktuaria.
4. Asumsi Demografis Dapat Memengaruhi Hasil
Valuasi aktuaria juga mempertimbangkan kemungkinan yang berkaitan dengan perilaku dan kondisi demografis karyawan.
Salah satunya adalah tingkat turnover, yaitu perkiraan kemungkinan karyawan berhenti sebelum mencapai kondisi tertentu yang menjadi dasar pemberian manfaat.
Jika asumsi turnover berubah, jumlah karyawan yang diperkirakan akan menerima manfaat di masa depan juga dapat berubah.
Faktor demografis lainnya juga digunakan sesuai kebutuhan model valuasi.
Inilah yang membuat perhitungan aktuaria berbeda dari perhitungan pesangon sederhana menggunakan spreadsheet.
Perubahan Angka Tidak Selalu Berarti Ada Kesalahan
Ini merupakan hal penting bagi HR dan Finance.
Ketika laporan aktuaria tahun ini menunjukkan angka yang berbeda dari tahun sebelumnya, langkah pertama seharusnya bukan langsung mempertanyakan mengapa aktuaris “mengubah angka”.
Yang perlu dilihat adalah apa yang berubah di balik angka tersebut.
Apakah terdapat perubahan tingkat diskonto?
Apakah asumsi kenaikan gaji berubah?
Apakah jumlah atau struktur karyawan berubah?
Apakah terdapat perubahan manfaat atau kondisi kepegawaian?
Apakah terdapat perbedaan antara asumsi tahun sebelumnya dengan kondisi aktual?
PSAK 219 mengatur pengukuran dan pengungkapan terkait imbalan kerja, sehingga proses pengukuran memang membutuhkan pertimbangan terhadap kondisi dan asumsi yang relevan.
Dengan memahami penyebab perubahan, manajemen dapat membedakan antara perubahan yang wajar karena asumsi dan perubahan yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Mengapa Finance Perlu Memahami Perubahan Ini?
Bagi Finance, angka aktuaria bukan sekadar angka untuk dimasukkan ke neraca.
Perubahan nilai kewajiban dapat berdampak pada laporan keuangan dan perlu dapat dijelaskan ketika auditor melakukan pemeriksaan.
Jika liabilitas berubah cukup signifikan, manajemen perlu memahami faktor pendorongnya.
Dokumentasi asumsi dan rekonsiliasi perubahan menjadi penting karena auditor tidak hanya melihat angka akhir. Auditor juga perlu memahami dasar pengukuran dan bagaimana perubahan dari periode sebelumnya dapat dijelaskan.
Bagi HR, hasil valuasi juga dapat memberikan informasi mengenai potensi kewajiban perusahaan terhadap tenaga kerja di masa depan.
Dengan demikian, laporan aktuaria seharusnya tidak hanya disimpan sebagai dokumen untuk kebutuhan audit. Informasinya dapat menjadi bagian dari pengelolaan risiko biaya SDM perusahaan.
Jangan Hanya Membandingkan Angka Akhir
Kesalahan yang cukup umum adalah membandingkan angka aktuaria tahun lalu dan tahun ini tanpa melihat perubahan asumsi di belakangnya.
Padahal, dua angka tersebut bisa berasal dari kondisi yang berbeda.
Cara yang lebih tepat adalah melihat perubahan secara menyeluruh: data karyawan, asumsi aktuaria, tingkat diskonto, proyeksi gaji, perubahan manfaat, serta faktor lain yang memengaruhi hasil valuasi.
Pendekatan ini membantu perusahaan memahami apakah perubahan liabilitas berasal dari perubahan kondisi bisnis, perubahan asumsi, pengalaman aktual yang berbeda dari perkiraan sebelumnya, atau kombinasi dari beberapa faktor.
Untuk perusahaan yang sedang menghadapi audit, pemahaman ini menjadi semakin penting. Angka yang berubah harus dapat dijelaskan secara logis dan didukung dokumentasi yang memadai.
Angka yang Berubah Justru Memberikan Informasi
Angka aktuaria yang berubah setiap tahun bukan sesuatu yang harus selalu dianggap sebagai masalah.
Justru, perubahan tersebut menunjukkan bahwa perhitungan berusaha mencerminkan kondisi perusahaan dan lingkungan ekonomi pada setiap periode pelaporan.
Yang menjadi masalah adalah ketika perusahaan tidak memahami mengapa angka tersebut berubah.
Tanpa pemahaman yang memadai, Finance dapat kesulitan menjelaskan perbedaan kepada auditor. HR juga dapat kehilangan kesempatan untuk menggunakan informasi tersebut dalam perencanaan biaya tenaga kerja.
Karena itu, perusahaan membutuhkan proses valuasi yang konsisten, data yang akurat, asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta penjelasan yang jelas mengenai perubahan hasil dari satu periode ke periode berikutnya.
Pastikan Setiap Perubahan Angka Dapat Dijelaskan
Angka aktuaria memang “hidup” karena kewajiban imbalan kerja dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Perubahan tingkat diskonto, asumsi kenaikan gaji, data karyawan, turnover, dan faktor aktuaria lainnya dapat menyebabkan nilai kewajiban berbeda setiap periode.
Yang penting bukan membuat angka selalu sama, tetapi memastikan angka tersebut dihitung dengan metodologi yang tepat dan dapat dijelaskan secara profesional.
Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan untuk memahami perubahan kewajiban atau menyiapkan laporan aktuaria untuk kebutuhan audit dan pelaporan keuangan, tim imbalankerja.id siap membantu melalui jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang akurat dan terdokumentasi dengan baik.
Dengan dukungan konsultan aktuaria yang memahami kebutuhan perusahaan, HR dan Finance dapat lebih mudah memahami faktor yang memengaruhi angka aktuaria, mempersiapkan kebutuhan audit, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?
Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.
