
Ketika perusahaan meminta valuasi aktuaria kepada dua konsultan dan mendapatkan angka yang berbeda, pertanyaan yang sering muncul adalah: mana yang benar?
Perbedaan angka sebenarnya tidak selalu berarti salah satu aktuaris melakukan kesalahan. Dalam perhitungan imbalan kerja, terdapat sejumlah asumsi dan pertimbangan profesional yang dapat menghasilkan nilai kewajiban berbeda, meskipun data karyawan yang digunakan sama.
Yang lebih penting bagi HR dan Finance bukan sekadar mencari angka yang paling kecil atau paling besar, tetapi memahami mengapa angka tersebut berbeda dan apakah perhitungannya dapat dipertanggungjawabkan.
Perhitungan Aktuaria Bukan Sekadar Memasukkan Data Karyawan
Valuasi aktuaria menggunakan banyak informasi sekaligus. Data seperti tanggal lahir, tanggal mulai bekerja, status kepegawaian, dan gaji menjadi dasar untuk memproyeksikan kewajiban perusahaan di masa depan.
Kualitas data sangat menentukan hasil. Jika satu konsultan menggunakan data karyawan yang sudah diperbarui sementara konsultan lain masih menggunakan data lama, hasil valuasinya tentu dapat berbeda. Kesalahan tanggal lahir, gaji, masa kerja, atau status karyawan juga dapat memengaruhi kewajiban yang dihitung. Prinsipnya sederhana: data yang berbeda dapat menghasilkan angka yang berbeda.
Namun, data bukan satu-satunya penyebab.
Asumsi Aktuaria Bisa Membuat Hasil Berbeda
Dalam valuasi imbalan kerja, aktuaris perlu membuat asumsi mengenai kondisi yang belum terjadi.
Contohnya adalah tingkat kenaikan gaji, tingkat turnover, mortalitas, dan tingkat diskonto. Asumsi tersebut digunakan untuk memperkirakan berapa besar manfaat yang kemungkinan harus dibayarkan perusahaan di masa depan dan berapa nilainya jika dihitung pada tanggal laporan.
Perbedaan kecil pada asumsi dapat menghasilkan perbedaan material pada kewajiban.
Misalnya, jika satu aktuaris menggunakan asumsi kenaikan gaji yang lebih tinggi, proyeksi manfaat karyawan di masa depan juga dapat menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, perubahan tingkat diskonto dapat mengubah nilai kini kewajiban yang dicatat perusahaan.
Karena itu, dua aktuaris dapat menghasilkan angka berbeda tanpa berarti salah satunya otomatis keliru.
Yang perlu diperiksa adalah dasar pemilihan asumsi tersebut dan apakah asumsi yang digunakan dapat dijelaskan serta dipertanggungjawabkan.
Metodenya Sama, Tetapi Penerapannya Tetap Bisa Berbeda
PSAK 219 mengatur pengukuran program imbalan pasti menggunakan metode aktuaria, termasuk Projected Unit Credit atau PUC. Dalam metode ini, manfaat yang akan diterima di masa depan diproyeksikan kemudian diperhitungkan berdasarkan masa kerja dan nilai kini kewajiban.
Jadi, perbedaan bukan berarti setiap aktuaris bebas menggunakan metode sesuka hati.
Justru karena metodologinya memiliki kerangka yang jelas, perhatian kemudian bergeser pada bagaimana data, asumsi, dan ketentuan program perusahaan diterapkan dalam model.
Perbedaan dapat muncul ketika terdapat interpretasi atau pertimbangan profesional yang berbeda terhadap kondisi perusahaan. Misalnya, bagaimana menentukan asumsi turnover berdasarkan pengalaman perusahaan, bagaimana memproyeksikan kenaikan gaji, atau bagaimana menerapkan ketentuan manfaat yang berlaku pada program perusahaan.
Inilah salah satu alasan mengapa laporan aktuaria tidak seharusnya dinilai hanya dari angka akhirnya.
Angka Mana yang Harus Dipilih?
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul dari Finance ketika mendapatkan dua laporan berbeda.
Jawabannya bukan memilih angka yang paling rendah agar beban perusahaan terlihat lebih kecil.
Perusahaan perlu membandingkan beberapa hal: apakah data yang digunakan sama, apakah tanggal valuasinya sama, bagaimana asumsi ditetapkan, metode yang digunakan sesuai standar, serta bagaimana perhitungan tersebut didokumentasikan.
Perusahaan juga perlu memastikan bahwa perbedaan tersebut dapat dijelaskan secara profesional.
Laporan aktuaria yang baik bukan hanya menghasilkan angka. Laporan tersebut juga membantu Finance memahami faktor apa yang menyebabkan kewajiban meningkat atau menurun.
Hal ini penting karena nilai kewajiban imbalan kerja dapat memengaruhi laporan posisi keuangan dan komponen laporan laba rugi maupun penghasilan komprehensif lain, tergantung pada jenis perubahan yang terjadi.
Kapan Perbedaan Angka Perlu Diwaspadai?
Perbedaan angka menjadi lebih serius apabila tidak ada penjelasan yang memadai mengenai sumber perbedaannya.
Misalnya, dua laporan menggunakan data karyawan yang sama tetapi memberikan hasil yang sangat berbeda tanpa penjelasan mengenai perubahan asumsi atau metodologi.
Kondisi seperti ini dapat menyulitkan Finance ketika auditor meminta penjelasan.
Risikonya bukan hanya soal angka. Proses audit dapat menjadi lebih panjang karena auditor perlu memahami dasar perhitungan, asumsi yang digunakan, serta dokumentasi pendukungnya.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya bertanya, “Berapa hasil valuasinya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana angka tersebut diperoleh dan apakah kami dapat mempertanggungjawabkannya?”
Fokus pada Alasan Perbedaannya, Bukan Sekadar Angkanya
Memahami alasan perbedaan hasil valuasi membantu HR dan Finance mengambil keputusan yang lebih tepat.
Jika dua laporan menghasilkan angka berbeda, lakukan rekonsiliasi terhadap data, asumsi, tanggal valuasi, ketentuan manfaat, dan penerapan metode. Dengan begitu, perusahaan dapat mengetahui apakah perbedaan tersebut berasal dari perubahan kondisi yang wajar atau justru menunjukkan adanya masalah dalam perhitungan.
Proses ini membutuhkan pemahaman aktuaria yang cukup spesifik. Bagi perusahaan, membandingkan dua laporan secara mendalam juga dapat memerlukan waktu dan keahlian yang tidak selalu tersedia secara internal.
Karena itu, validasi dan dokumentasi menjadi bagian penting dari proses valuasi, terutama ketika hasilnya akan digunakan untuk laporan keuangan dan kebutuhan audit.
Saatnya Memastikan Angka Dapat Dipertanggungjawabkan
Dua aktuaris dapat menghasilkan angka berbeda karena menggunakan data, asumsi, atau pertimbangan profesional yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan kesalahan.
Yang menjadi perhatian perusahaan adalah apakah metodologi yang digunakan sesuai, asumsi memiliki dasar yang wajar, data yang digunakan akurat, dan hasil perhitungan dapat dijelaskan dengan baik.
Bagi HR dan Finance, memahami hal ini jauh lebih penting daripada sekadar mencari laporan dengan kewajiban paling rendah.
Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan untuk menilai kewajiban imbalan kerja, tim imbalankerja.id siap membantu melalui konsultan aktuaria dan jasa perhitungan imbalan kerja karyawan yang disusun secara profesional, terdokumentasi, dan mendukung kebutuhan laporan keuangan serta audit. Perusahaan tidak perlu menangani kompleksitas perhitungan ini sendiri ketika keahlian aktuaria yang tepat dapat membantu memastikan hasilnya lebih mudah dipertanggungjawabkan.
Siap Hadapi Audit Tanpa Revisi?
Dapatkan laporan valuasi aktuaria PSAK 219 yang akurat, sesuai regulasi terbaru, dan 100% didukung saat audit bersama aktuaris tersertifikasi kami.
